Laporan Bacaan

 Nama : Resha Melinda

Kelas : PAI 4E

Dosen Pengampu : Farninda Aditya, M.Pd

Laporan Bacaan ke-1 Kultur Sekolah.


1. pengertian Kultur Sekolah

Kultur atau kebudayaan ini merupakan pandangan hidup yang diakui atau dijalankan oleh suatu kelompok masyarakat mulai dari cara berfikirnya , cara berperilakunya, sikap, dan nilai yang tercermin didalam kebudayaan tersebut baik berwujud fisik atau non fisik. Kultur ini akan diwariskan oleh suatu generasi ke generasi berikutnya atau turun temurun. Kemudian sekolah dianggap sebagai lembaga utama yang di desain untuk memperlancar proses penyebaran kebudayaan antar generasi tersebut. Contoh, dalam berbicara jika orang Batak berbicara dengan nada tinggi seperti kasar tetapi sebenarnya mereka tidak bermaksud seperti itu dan hal tersebut sudah dianggap hal yang biasa bagi mereka, lain lagi dengan orang Jawa yang cara berbicaranya halus dan mendok. 

Dapat disimpulkan bahwa kebudayaan ini sebagai pengetahuan manusia sebagai makhluk sosial yang digunakan untuk memahami dan menerangkan lingkungannya dan pengalamannya serta menjadi landasan bagi tingkah lakunya. Suatu kebudayaan ini adalah milik seluruh anggota masyarakat atau suatu golongan sosial, yang penyebarannya kepada anggota-anggotanya dan kepada pewarisannya yaitu kepada generasi berikutnya, hal ini dilakukan melalui proses belajar dengan menggunakan simbol-simbol dalam bentuk yang terucapkan maupun yang tidak. Dengan demikian setiap angota masyarakat mempunyai suatu pengetahuan mengenai kebudayaannya tersebut yang berbeda antara suatu kelompok dengan kelompok lainnya atau anggota yang lainnya disebabkan oleh pengalaman dan proses belajarnya yang berbeda dan karena lingkungan-lingkungan yang mereka hadapi tidak selamanya sama sebab kebudayaan ini terbentuk dari adat kebiasaan ini terbentuk dari adat kebiasaan masyarakat tersebut. Contoh : kebudayaan dalam sekolah atau kampus setiap sekolah atau kampus memiliki budaya yang berbeda dan mempunyai pengalaman yang tidak sama dalam membangun budaya sekolah atau kampus, perbedaan pengalaman inilah yang menggambarkan “keunikan” dalam dinamika sekolah. Contoh di sekolah saya yaitu Madrasah Aliyah kabupaten Melawi setiap dua tahun sekali selalu merayakan ulang tahun sekolah dan ada juga sekolah yang tidak merayakan ulang tahun sama sekali. Jadi kultur sekolah ini merupakan kualitas kehidupan sebuah sekolah yang tumbuh dan berkembang berdasarkan spirit dan nilai-nilai sekolah.

2. Karakteristik Kultur Sekolah

Kultur sekolah ini diharapkan dapat memperbaiki mutu sekolah, kinerja sekolah dan mutu kehidupan yang diharapkan memiliki cirri sehat, aktif, positif, professional dan sekolah perlu mengubah kultur-kultur yang negative dan beracun disekolah. Kultur-kultur harus dikembangkan oleh sekolah yakni kultur yang terkait dengan prestasi atau kualitas atau yang berkaitan dengan kehidupan sosial seperti keimanan, ketakwaan, nilai-nilai kejujuran, adab kepada orangtua, semangat dalam belajar dan lain-lain.

Kultur sekolah ini bersifat dinamis perubahan pola prilaku dapat mengubah sistem nilai keyakinan pelaku dan bahkan mengubah sistem asumsi yang ada, walaupun sangat sulit. Maka dari itu sekolah perlu menyadari secara serius mengenai keberadaan aneka kultur seperti kultur sehat atau tidaknya, kultur kuat dan lemah, kultur positif dan negatif, kacau dan stabil, mengingat pentingnya sistem nilai yang diinginkan untuk perbaikan sekolah. Jadi kultur sekolah ini adalah budaya dalam kehidupan sekolah yang berjalan terus menerus yang dapat merubah pola prilaku. Dinamika kultur juga dapat menimbulkan konflik namun jika pihak sekolah bisa mengatasinya secara bijak konflik tersebut dapat menjai perubahan yang positif.

3. Identifikasi Kultur Sekolah

Kotter memberi gambaran bahwa budaya itu dapat dilihat dari dua lapisan. Pertama dapat dapat diamati dan sebagian tidak teramati. Seperti arsitektur, tata ruang, eksterior dan interior, kebiasaan, dan rutinitas, peraturan-peraturan, cerita-cerita, upacara-upacara, ritus-ritus, simbol, logo, sopaan santun, berpakaian hal ini dapat di amati langsung dan hal-hal yang berada dibalik hal yang Nampak tadi tidak bisa diamati dengan segera. Lapisan pertama budaya berupa norma-norma kelompok atau cara-cara tradisional berprilaku umumnya sukar diubah itu disebut dengan Artifak. Lapisan kedua berupa nilai-nilai bersama yang dianut kelompok berhubungan dengan yang baik, yang benar, dan yang penting. Lapisan ini tidak dapat diamati karena terletak di dalam kehidupan bersama. Jadi lapisan perama ini berisi norma-norma prilaku yang sukar untuk diubah, maka lapisan kedua yang berintikan nilai-nilai keyakinan yang sangat sukar diubah dan perlu waktu juga untuk merubahnya.

Kepala sekolah berusaha keras untuk menciptakan kultur kolaboratif dikalangan komunitas sekolah termasuk guru, staf siswa, orangtua, dan komite sekolah. Dalam hal ini, ia melakukan koordinasi dengan mereka dalam membuat keputusan dan mengimplementasikan program-program. (Raihani,2010:135).

Kepala sekolah sebagai sentral pengembangan kultur  sekolah harus dapat menjadi contoh dalam berinteraksi di sekolah. Ia adalah figure yang memiliki komitmen terhadap tugas sekolah, jujur dalam kata dan perbuatan, dan selalu bermusyawarah dalam membuat kebijakan sekolah, ramah, dan menghargai pendapat orang lain. selain itu kepala sekolah merupakan model bagi warga sekolah.

a. kultur positif, Negatif, dan Netral.

Ariefa Elfianingrum menggambarkan kultur sekolah yang terkait dengan usaha meningkatkan kualitas pendidikan sebagai berikut :

Kultur yang bersifat positif adalah kultur yang pro mendukung peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh kerja sama dalam mencapai prestasi, penghargaan terhadap yang berprestasi, komitmen terhadap belajar, saling percaya antar warga sekolah, menjaga sportivitas dan sebagainya. Kultur yang bersifat negate adalah kultur yang kontra (menghambat) peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh banyak jam pelajaran yang ksong, siswa takut berbuat salah, siswa takut bertanya atau mengemukakan pendapat, warga sekolah saling menjatuhkan, persaingan yang tidak sehat diantara para siswa, perkelahian antar siswa atau antar sekolah, penggunaan minuman keras dan obat-obatan terlarang, porno grafi dan sebagainya. Sedangkan kultur yang bersifat nbetral adalah kultur yang tidak mendukung maupun menghambat peningkatan kualitas pendidikan. Sebagai contoh arisan keluarga sekolah, seragam guru, dan sebagainya. 

b. Artifak, Nilai, Keyakinan dan Asumsi.

Kultur sekolah merupakan asset yang bersifat abstrak, bersifat unik, dan senantiasa berproses dengan dinamika yang tidak sama antara satu sekolah dengan sekolah yang lain. menurut Depdiknas Direktorat Pendidikan Menengah Umum (2003:12)  dalam kaitannya dengan kebutuhan pengembangan kultur sekolah, yang perlu  di pahami bahwa kultur hanya dapat dikenali melalui pencerminannya pada berbagai hal yang dapat di amati di sebut dengan Artifak. Artifak ini dapat berupa: 

1) perilaku verbal: uangkapan lisan atau tulis dalam bentuk kalimat atau kata-kata

2) perilaku non verbal: ungkapan dalam tindakan.

3) benda hasil budaya : arsitektur, ekterior dan interior, lambang, tata ruang, meplair dan sebagainya.

Dibalik artifak itulah tersembunyi kultur yang dapat berupa : 

1). Nilai-nilali : mutu, disiplin, toleransi dan sebagainya.

2). Keyakinan : tidak kalah dengan sekolah yang lain bila mau bekerja keras.

3). Asumsi : semua anak dapat menguasai bahan pelajaran, hanya waktu yang diperlukan berbeda.

C. Peran kepala Sekolah

Para pemimpin di dunia pendidikan harus lebih terlibat dalam upaya membentuk sekolah yang tanggap terhadap kebutuhan yang muncul dalam komunitas dan masyarakat, tidak hanya yang berkaitan dengan perubahan konteks dunia kerja maupun pekerja, tetapi juga memperlihatkan masalah politis, cultural, dan perubahan sosial yang berlangsung (starrat, J. Robert, 2007:13). 

Kepemimpinan memegang poeranan sangat penting dalam pengembangan sekolah secara keseluruhan. Teori-teori praktik terkini dalam pendidikan menunjukan adanya perhatian besar pada bidang kepemimpinan. Perhatian ini sejalan dengan era yang ditandai dengan perubahan-perubahan dramatis dalam bidang kehidupan, yang tak terelakan lagi berpengaruh pada pendiidkan. Di era perubahan ini kepemimpinan sangat penting dalam memandu peningkatan prestasi dan perkembangan sekolah. Untuk membangun kultur, kepala sekolah harus memberi perhatian terhadap aspek informal, aspek simbolik, dan aspek yang tak tampak dari kehidupan sekolah yang membentuk keyakinan dan tiap tindakan tiap warga sekolah. Tugas kepala sekolah adalah menciptakan atau membentuk dan mendukung kultur yang diperlukan untuk menguatkan sikap yang efekltif dalam segala hal yang dikerjakan di sekolah. 

Menurut Cuningham dan Gresno 1995, apabila sikap ini timbul dan didukung oleh kulrtur, semua aspek akan berjalan dan beriringan. Oleh karena itu, pembangunan kultur merupakan kunci kesuksesan organisasi (Depdiknal direktorat pendidikan menegah umum 2003:13). Oleh karena itu, agar pembangunan kultur sekolah yang positif dapat dicapai, peran kepala sekolah sebagai pemimpin harus ditelaah. Menurut Senge (depdiknas direktorat pendidikan menegah umum 2003:14), peran kepala sekolah yang berhasil mengelola sekolah adalah yang memiliki karakteristik sebagai berikut : 

1. mensosialisasikan visi dan misi sekolah dan rencana mencapai visi.

2. menjelaskan harapan sekolah terhadap guru dan siswa.

3. selalu tampak di sekolah.

4. dipercaya oleh guru dan siswa.

5. membantu pengembangan kemampuan guru.

6. memberdayakan guru dan siswa.

7. memberikan pujian dan peringatan terhadap warga sekolah.

8. memiliki rasa humor.

9. sebagai model bagi guru dan siswa.


4. kerangka Fikir

Pembangunan sekolah menuju sekolah yang bermutu pada dasarnya adalah membangun sekolah tersebut berdassarkan kekuatan utama dari sekolah tersebut. Perbaikan mutu sekolah perlu memahami kultur sekolah sebagai model dasarnya. Melalui pemahaman kultur sekolah akan diketahui kesesuaian visi, misi, tujuan dan tindakan atau proses disekolah tersebut, aneka permasalahan yang dihadapi dan refleksi dari pengalaman-pengalaman. Kultur sekolah yang baik akan siap dan mamapu meningkatkan sekolah menjadi sekolah bermutu yang meliputi Artifak, nilai dan keyakinan, serta asumsi. Dari seluruh rangkaian tersebut akan dicapai sekolah yang bermutu dan berkualitas. 

Untuk mengetahui dengan jelas kultur sekolah dirintisan bertarap internasional SMP seperti yang telah di uraikan diatas, penting diadakan suatu penelitian yang hasilnya dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan untuk perbaikan yang dilakukan oleh pihak sekolah maupun pemerintah. Oleh klarena itu, yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif, deskriptif, dimana metode ini diangap paling tepat digunakan untuk meneliti secara mendalam tentang kultur sekolah.

Pendidikan karakter

Lahirnya pendidikan karakter merupakan upaya repitalisasi pedagogik ideal spiritual yang sempat hilang tergerus arus positipisme yang dipelopori oleh pilsuf dan sosiolog prancis auguste comte (1798-1857). Tujuan pendidikan menurut foer ster adalah unutk membentuk karakter yang terwujud dalam kesatuan esensial antara si subjek dengan prilaku dan sikap hidup yang dimilikinya. Karakter yang menjadi semacam identitas yang mengatasi pengalaman kontigen yang selalu berubah. Dari kematangan karakter inilah kualitas seorang diukur.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Laporan Bacaan "Manajmeen Pendidikan"